-->

Selasa, 26 Juli 2011

Cermath : Kisah si X part III


Dibawah pohon simbol integral ini kami berteduh, melepas penat, dan melayangkan sedikit kecemasan. Entah sudah berapa lama kami berjalan sejak melewati gerbang fungsi limit. Pohon integral ya ? Hmmm…Dulu sewaktu aku masih anak-anak, ketika aku kabur ke dunia kalkulus tentunya, aku terpesona oleh kemegahan pohon ini. Begitu anggun dan elegan. Ada kesan yang menyenangkan sekaligus menyeramkan dalam pohon ini. Biasanya banyak variabel yang berjibaku untuk berjejer tepat didepannya. Kau tahu mengapa ? Karena saat-saat seperti itulah Mbah integral yang baik hati (tidak seperti mbah diferensial) mulai melakukan pekerjaannya. Ia akan menaikan setiap pangkat variabel yang berada didepan pohon integral. Tapi banyak juga loh yang binasa !. Angka-angka sering terbawa oleh angin dan hinggap diatas pohon itu atau jatuh tepat dibawahnya. Buuuuft !! Seketika pohon tersebut memiliki batas dan membuat semua variabel mengakhiri tugasnya. Sungguh tragis

Kulihat banyak variabel kerdil (dwarf) berbentuk “dx” mondar-mandir kesana kemari memulai hari yang indah ini. Ya memang, mereka sejenis dengan ku tapi sedikit berbeda dalam hal ukuran tubuh. Merekalah yang selalu membantu Mbah integral menjalankan tugasnya secara sukarela. Ku pandangi sekelilingku, mencari pertanda kemana penganut teorema sesat membawa kedua anakku. Hasilnya nihil. Semua serba abu-abu. Sudah seminggu aku berada di dunia kakulus ini, tapi belum menemukan kemajuan. Aku bingung, hilang arah kemana aku harus mulai melangkah. Ku putuskan untuk bertanya kepada Pak dx. Sungguh bingung aku dibuatnya. Entah apa yang dia katakan karena bahasanya sedikit berbeda. Mungkin karena aksen “aneh” yang membuatnya seperti itu. Tapi satu hal yang dapat aku pahami dengan jelas. Dia berkata bahwa jika ingin mengetahui seluk-beluk dunia ini dengan jelas, kenapa tidak bertanya kepada Mbah integral. Benak ku seketika membenarkan dan harapan ku pun mendadak tumbuh menjulang ke atas. Dengan semangat aku mengajak istri ku untuk cepat-cepat menemui Mbah integral. Benar-benar sangat berapi-api.

Disinilah sekarang aku berdiri, di depan sebuah gubuk tua, di ujung jalan setapak yang hampir tak terlihat karena tertutup oleh akar-akar pohon simbol integral. Perlahan-lahan kudekati pintu kumuh itu dan mencoba membuat beberapa ketukan. Ia pun keluar. Sesosok makhluk matematika tua yang kelihatannya telah melewati beberapa kejadian sangat pahit, siapa lagi kalau bukan Mbah integral.

“Masuklah !! Aku tahu dimana penganut teorema sesat itu berada…”

Kami pun masuk dengan tidak mengurangi sikap waspada. Hebat ! Dia dapat mengetahui tujuanku tanpa bertanya lebih dahulu. Dia ini dukun atau apa sebenarnya ? Aku bergumam dalam hati.

“Tenanglah, aku bukan dukun. Mereka berada di seberang sungai barisan aritmetika tak jauh dari tempat ini. Tapi, waspadalah ! Karena disana musuhku si Diferensial sering berkeliaran. Kalian dapat menggunakan formula atau rumus agar dapat berpindah dengan cepat dalam menyeberangi sungai itu. Aku sarankan pakailah formula ‘Un’. Aku jamin kalian tidak akan bertemu si bedebah Diferensial itu !”

“Te, te, terima kasih Mbah…”, aku menjawab dengan terbata-bata.

“Sudahlah ! Jangan kau diam saja disana. Cepat pergi sebelum kalian kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan anak kalian selamanya !”

Dengan penuh rasa percaya diri, kami pergi menyusuri jalan kecil menuju sungai barisan aritmerika. Suasana agak mencekam di sepanjang jalan ini. Entah apa yang membuatnya, aku tak tahu. Tapi untunglah isteriku setia menemaniku. Berjalan berdua di jalan kecil seperti ini, membuat aku mengenang masa-masa indah ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Masa dimana kami sering duduk berdua di sisi sebuah jalan kecil dekat taman matriks. Menatap indahnya pemandangan sekumpulan fungsi naik dan fungsi turun. Tak luput determinan pun terlihat di tengah-tengahnya. Sungguh memesona. Aku ingin kembali ke masa itu. Tiba-tiba salah satu pikiranku yang lain menyerobot dan membuyarkan kenangan indahku. Aku teringat pesan Mbah integral. Aku harus membuat sebuah formula terlebih dahulu sebelum tiba di sungai itu. Baiklah, untung saja bahan-bahannya mudah didapat, yaitu hanya beberapa angka dan bahan-bahan lain. Karena tak ingin membuat resiko, aku membuat formula yang berbeda dari apa yang si Mbah sarankan. Formula ‘Sn’ !! Aku pikir itu akan membuat perpindahan menjadi semakin cepat sehingga Mbah Diferensial tak dapat mengejar kami. Ya hanya itu tujuanku, tak ada yang lain.

Angka-angka terlihat indah mengalir dalam sungai barisan aritmetika ini. Seakan-akan mereka hidup dan memberi salam padaku. Aku pun membalas salam mereka dengan sebuah senyuman. Tetapi sepertinya mereka tidak senang akan hal itu. Mereka tiba-tiba saja bergelombang dan membuat riakan yang sangat besar. Aku cemas sekaligus khawatir dengan apa yang akan terjadi. Oh tidaaak !! Ternyata itu Mbah Diferensial yang sedang menunggu mangsa dibawah sana. Cepat-cepat aku gunakan formula yang telah aku buat. Sial, aku baru sadar bahwa efek formula itu akan bekerja 1 menit kemudian sedangkan si Mbah telah berada dalam jarak beberapa meter di depan kami. Dengan refleks kami pun berlari ke arah hutan menjauhi si Mbah. Tetapi ia lama-kelamaan semakin mendekat dan menjadi sangat dekat. Detik-detik terakhir sebelum menyentuh tubuh si Mbah, efek formula itu bekerja ! TRING !! Kami melesat menjauhi si Mbah. Partikel-partikel udara berhembus dari hidungku menandakan sebuah kelegaan. Hufft. Namun baru beberapa detik saja, formula itu membawa kami ke dalam arah yang salah ! Aku takut, tegang, sekaligus cemas.

Kami malah semakin mendekat ke arah Mbah Diferensial. Sontak dia pun mencoba menyentuh kami. Kami berusaha bergerak melawan arah gerak formula tetapi energi yang kami punya hanya sedikit. Aku paksakan dengan sekuat tenaga dan akhirnya berhasil ! Aku perlahan-lahan keluar dari lintasan formula itu. Aku senang sekali. Namun ada yang sedikit berbeda. Isteriku !! Dimana dia ?? Aah tidaak !! Ia masih berada dalam lintasan itu !. Apa yang harus ku perbuat ? Lalu dalam sekejap, didepan mataku, ia berubah menjadi angka. Aku lemas, menjerit dalam hati, dan termenung sejenak.

“Ini salah ku !! Seharusnya aku mendengar kata-kata Mbah Integral ! Ini semua salah ku !! Mengapa aku mengubah formula itu menjadi “Sn” ? Bodohnya aku !! Benar-benar bodoh ! Tuhan, dapatkah aku mengulang semuanya ? Ku mohon ?! Beri aku kesempatan kedua ?! Arggghhhhh… Tidaaaaaaaaaak !!”

Haruskah aku melanjutkan perjalanan ini ? Di tengah keadaan duka seperti ini ? Aku bimbang belum dapat memutuskan.

Bersambung...
Penasaran ?? Klik disini...

Senin, 11 Juli 2011

Cermath : Kisah si X part II


Hufftt…. Akhirnya beres juga pekerjaanku di sekolah menengah pertama ini. Sungguh sangat melelahkan. Aku harus mondar-mandir dari satu buku, ke buku lainnya. Tetapi sang anak manusia itu tak kunjung mengerti pula. Apakah aku yang salah ? Atau guru mereka ? Mari kalian semua, para manusia, renungkan. Aku hanya bisa diam disini menunggu seorang manusia jenius yang bisa memaksimalkan potensiku

Papan tulis sedikit bedebu disini. Hal itu membuat kedatangan sang jenius terlihat jelas dari pulupuk mataku. Seorang anak remaja yang terlihat biasa saja, agak kucel memang. Tapi sungguh aku akui aura kejeniusannya terlihat jelas disudut ruang. Ia sangat lihai menggunakanku sampai-sampai aku tak tak butuh tenaga untuk membantunya. Bayangkan, sorang anak SMP (berasal dari peadalaman ku duga) mampu mengupas hampir semua teori-teori yang membuat bingung para sarjana muda. Bahkan para guru itu sampai geleng-geleng kepala dibuatnya (tentu saja bukan berarti mabuk…hehe). Entahlah darimana asalnya semua teori yang ia kuasai itu, akupun tak habis pikir. Inilah sosok yang ku tunggu-tunggu, yang mampu mengubah dunia manusia maupun dunia kami, dunia ilmu pengetahuan. Hai para remaja di muka bumi, kalian patut malu dan contohlah sang anak ajaib ini.

Sepulang dari pekerjaan ku di salah satu sekolah menengah pertama swasta itu, aku pun melepas penat dengan berkeliling taman matriks. Angka-angka berjejer dengan rapi sesuai dengan ordonya, para variable pekerja pun dengan giat mengurus kebun taman mereka. Pandangan ku tiba-tiba berhenti pada satu titik di ujung jalan, yang membuat ku terpesona. Terpesona bukan kepalang. Sebuah taman matriks identitas terpapapar indah dengan sentuhan yang luar biasa. Memang ukurannya tidak terlalu luas, hanya 2 x 2 saja, tapi penataannya itu yang membuatku terpesona. Ditengah-tengah taman itu, sesosok variable muncul dengan senyuman memukau. Ya, dia adalah variable yang paling indah yang pernah aku temui. Namun, aku belum sempat menanyakan identitasnya. Tapi tak apalah pikirku. Mungkin aku besok bisa menemuinya lagi disini.

Matahari esok telah bangun dari tidurnya. Aku bersemangat sekali hari ini karena sesuatu hal yang kalian pasti tahu apa itu. Aku mulai berlagak seperti detektif untuk mencari data tentang dewi variable yang telah mengisi himpunan kosong sang hati ku ini. Kalau membahas tentang data, aku tahu tempat yang tapat. Departemen statistika !! Tempat itulah yang menyediakan data yang akurat tentang variable di dunia ini. Sempat linglung juga aku ketika berada disana. Karena ada banyak sekali data, dan saya tidak tahu data tentangnya ada dimana. Bingo !! Entah takdir yang membawaku atau apa, secara kebetulan aku menemukan berkasnya tergeletak di atas meja. Lega hatiku ketika mengetahui identitas aslinya, dia adalah variable “Y”, putri satu-satunya dari Pak “Z”.Dengan nafas yang tergesa-gesa aku segera menuju taman matriks berharap ia ada disana seperti kemarin. Brukk !! Tiba-tiba aku bertabrakan dengan satu variable, ternyata dia !!

Berawal dari pertemuan tak lazim itu, kemudian hubungan kami berlanjut menjadi sepasang kekasih yang tidak dapat dipisahkan setelah kejadian bersejarah itu. Kami sudah berikrar janji dan pindah ke daerah pesisir diagram cartesius. Kami bersama-sama dalam persamaan garis dan memiliki sepasang anak X dan Y dalam persamaan lingkaran. Yah, memang kini umurku sudah berpangkat 2 dalam persamaan itu. Hari-hari kami lewati dengan kebahagiaan yang luar biasa. Sungguh keluarga yang aku idam-idamkan selama ini. Anak-anak ku pun tidak ada yang nakal, semuanya begitu penurut. Ya, memang aku sedikit khawatir akibat berkembangnya isu tentang teorema sesat yang sering menculik anak-anak kecil. Ditambah anak-anakku cukup cerdas untuk mereka jadikan incaran. Tapi aku yakin selama berpegang teguh pada teorema (semacam agama dalam kehidupan manusia) yang benar .

Suatu ketika, ketakutanku semakin menjadi-jadi. Terdengar kabar disana-sini bahwa sepasang anak-anakku telah ikut dalam teorema sesat itu. Aku panik dan hilang kendali. Apa yang harus ku lakukan ?? Akhirnya aku memutuskan melapor kepada sesepuh di rumah polinom. Rumah polinom merupakan rumah tempat berkumpulnya variabel-variabel yang telah berpangkat lebih dari 1000. Tetapi kini, para sesepuh dirumah itu tidaklah banyak. Kau tahu mengapa ? karena sebagian mereka disana telah direinkarnasikan sesuai dengan teorema sisa pembagian. Pangkat mereka yang tadinya beribu-ribu kini menjadi satuan kembali.

Betapa terkejutnya aku mendengar informasi yang dikatakan para sesepuh. Para penganut teorema sesat membawa jemaah mereka ke dunia kalkulus yang begitu aku takutkan. Mereka akan membuat suatu formula matematika yang dapat mengubah dunia ini menjadi semakin kelam, dipenuhi dengan himpunan kosong. Sebenarnya bukan hanya tugasku untuk menghentikan mereka, tapi tugas semua variabel di dunia ini. Yah, apa boleh buat, mereka tidak peduli dengan keadaanku. Aku terpaksa pergi bersama istriku untuk mengarungi dunia kalkulus. Satu-satunya jalan menuju kedunia itu adalah melalui gerbang fungfi limit. Memang agak berat hatiku masuk kembali kedunia itu, ini semacam trauma kecil. Tapi demi kedua buah hatiku, aku siap. Aku siap menerima resiko apa pun itu. Kami siap. Sangat siap.

Bersambung….
Penasaran ?? Klik disini...

Minggu, 26 Juni 2011

CerMath : Kisah si X part I




Tidaaak !! Hampir saja aku dibinasakan menjadi angka 1. Asal tahu saja, dalam dunia varibel bentuk angka merupakan akhir dari pekerjaan mereka. Contohnya jika kami berpangkat nol otomatis kami menjadi 1. Atau jika para manusia telah menemukan jati diri kami sebagai angka. Hanya bernilai satu angka, kecuali mereka memiliki pangkat yang tinggi. Ya, hanya pejabat-pejabat saja yang memiliki jati diri angka lebih dari satu. Sungguh aku iri dengan mereaka. Kapan ya, aku bisa menjadi seperti mereka ?

Oh iya hampir saja lupa aku memperkenalkan diri. Aku adalah variable yang paling terkenal dari jenis variable-variable lainnya. Aku adalah X. Banyak suka dan duka aku lewati sebagai jenis X. Kita mulai dari hal yang paling kusuka, yaitu aku sering diingat dan dikenang para manusia. Dari zaman Pak Khawarizmi (Bapak Aljabar) sampai Pak Einstein pun telah memakai aku. Dari anak SMP sampai professor dan ilmuwan juga memakai aku. Aku senang sekali. Nah, giliran hal dukanya, aku sudah capek dipakai terus, walaupun tak bisa kupungkuiri itu menyenangkan. Tapi yang namanya capek, tetap saja capek.

Yang paling sering memakai aku adalah anak SMP, terutama mereka yang baru saja meninggalkan sekolah dasar. Mungkin guru-guru mereka hanya memakai aku sebagai variabel dan tidak memperkenalkan jenis variable lain kepada mereka. Sedikit-sedikit memakai X, sedikit-sedikit memakai X. Huh... Pantas saja jika para manusia remaja itu kebingungan ketika mengahadapi soal aljabar dengan jenis varibel lain. Pernah suatu ketika seorang anak SMP tidak tahu bagaimana mengerjakan soal seperti ini : (2/3)d + 5/6 = 10. Mereka malah bertanya kepada gurunya, “Loh Pak, X nya mana ?”. Aku hanya nyengir sendiri...he..he… Kasihan si d, baru tampil pertama sudah dikecewakan. Huh….payah.

Ada yang kenal sama Mbah Diferensial ? Ya, itulah momok yang paling menakutkan bagi variable kecil, variable yang belum cukup dewasa dan hanya berpangkat 1. Sosok si Mbah itu sering dijadikan cerita menakutkan oleh para orang tua variable, terutama agar variable kecil seperti aku tidak sering bermain-main dalam dunia kalkulus. Tapi, wujud si Mbah bukan hanya mitos belaka. Dia nyata! Itulah sebabnya mengapa aku di awal tadi hampir dibinasakannya. Aku melanggar larangan ortu karena sok jagoan dan ingin dipuji dengan cara masuk dalam dunia kalkulus. Dapat anda bayangkan kan jika aku tersentuh sedikit saja oleh si Mbah ? Betul sekali, aku langsung berubah menjadi angka, yaitu angka terburuk, 1.

Kami bangsa variable menganggap bahwa berakhir dengan angka 1 merupakan kegagalan dalam pekerjaan. Mengapa ? Kan masih ada angka yang lebih kecil, seperti 0 dan angka negatif ? Mungkin kalian akan bertanya seperti itu. Jawabannya simpel saja, angka 1 tidak memberikan dampak kepada angka lain. Jika suatu angka dikalikan dengan 1, ya tetap saja angka itu yang muncul dan tidak memberikan dampak yang signifikan. Coba kalau angka 0 dan negatif, sekalipun mereka dikalikan dengan angka yang besar tetap saja ada bagian dari mereka yang terlihat. Memang aneh, tapi paradigma dalam masyarakat variable yang berkembang memang seperti itu. Aku pun sedikit tidak setuju dengan pandangan tersebut.

Ayahku bekerja di kementrian Logaritma. Walaupun ayahku belum mencapai tingkat basis dalam logaritma, tapi aku cukup bersyukur dengan keadaan ini. Tingkat basis adalah tingkatnya para pejabat. Kalian tahu sendirikan jika suatu variable berada dalam basis, maka dengan mudahnya pangkat akan bertambah secara signifikan. Misalnya dalam kasus x log 125 = 3. Maka pangkat x akan naik drastis menjadi 3. Otomatis pekerjaan pun tidak berkahir dengan 1. Sungguh pekerjaan yang sangat diimpikan semua orang. Hufft. Tetapi dalam kementrian logaritma, ada juga variable yang tidak berkahir dengan manis seperti yang aku contohkan. Mereka mendapatkan hasil sama dengan yang jelek seperti 0. Aku pikir mereka pantas mendapatkannya. Mau tahu alasannya ?? Satu kata saja cukup, KORUPTOR. Yah, mereka para koruptor angka yang seenaknya saja berbuat tanpa mementingkan variable lain. Huh, rasakan itu ! Mereka otomatis dibinasakan menjadi angka 1. Apakah di dunia kalian, para manusia, juga seperti itu ??

TING-TONG !! Waduh, bel masuk telah berbunyi. Aku harus memenuhi pekerjaanku terebih dahulu. Para anak SMP itu akan memakai aku lagi. Jadi, tunggu aku kembali ya !! Tenang saja, tidak lama kok…he…he…
Penasaran ?? Klik disini...

Minggu, 19 Juni 2011

Bingung ??


Pikiranku kosong…
Kosong sama dengan nol…
Nol adalah bundaran oval…
Oval sama dengan elips…
Elips adalah gabungan dua lengkungan…
Lengkungan hampir sama dengan cekungan…
Cekungan adalah garis lurus yang dibengkokan…
Dibengkokan sama dengan dibelokan…
Dibelokan adalah dijauhkan dari tujuan awal…
Tujuan awal adalah perwujudan dari pandangan mendasar…
Pandangan mendasar hampir sama dengan pelopor pikiran…
Pelopor pikiran apakah merupakan pikiran kosong ??

Aku bingung….
Penasaran ?? Klik disini...

Membisu


Dengan kebodohan aku naik keatas…
Menengadah dengan penuh arti…
Selama aku dapat melihat setitik cahaya fajar…
Kaki-kaki ini tak pernah berhenti…
Meski semua ini hanya ilusi..
Ya, hanya ilusi…

Ujung kuku pun membatu…
Ketika lenganku telah menyentuh lembut…
Bulu-bulu kecil salah satu rumput..
Kemudian ia bertanya, “Benarkah kau telah menyentuhku ?”
Lalu ia membentak, “Kau tak berhak !!”
Sejenak aku berhenti…
Tak ada tempat berpegang…
Hilang keseimbangan…
Perlahan melayang ke bawah…
Dan…
……………………………..
……………………………..
Jatuh……………………….

Puncak tak begitu buruk dari bawah sini…
Mencoba menghibur diri…
Di tengah perasaan pecundang sejati…

Mungkin memandang sudut lain akan lebih baik….
Haruskah kuhancurkan dasarnya ?
Dengan begitu puncak akan datang kepadaku…
Tapi………..
Tak akan ada istimewanya…..
Tak kan ada keindahan…
Semuanya datar….

Langit pun mencoba menceramahiku…

“Wahai anak adam. Jika kau berbuat demikian, kau sama saja membunuh dirimu sendiri. Semua rintangan di pasung begitu saja tidak kau manfaatkan. Semua ketegangan kau jerat layaknya sampah. Dan semua daya kreatifitas terpenjara dalam egomu sendiri hingga membusuk tak karuan. Itukah yang kau inginkan ? Itukah yang kau inginkan ?”

Aku gemetar,
Dan membisu….
Penasaran ?? Klik disini...

Jumat, 10 Juni 2011

Adakah yang Mau Menerima Saya Apa Adanya ?




Adakah yang mau menerima saya apa adanya ?
Adakah ?
Adakah ?
Atau mereka hanya menikmati kelebihan saya saja ?
Lantas bagaimana dengan kekurangan saya ?
Ataukah….

Beberapa tahun yang Lalu

Dalam komunitas tertentu saya sering kali tidak dianggap ataupun tidak dihargai sama sekali. Bahkan mereka bisa-bisanya menghujat saya tanpa alasan tertentu. Mungkin memang ada alasan, tapi alasan yang tidak pantas disebut sebagai alasan. Perbedaan. Ya itulah satu-satunya benteng yang dapat mereka jadikan sebagai tempat berlindung.

Hmmm…. Baru kali ini saya menghirup udara sang sumatera. Waktu dimana saya dan keluarga pertama kali berlabuh di suatu tempat bernama Aceh. Pada awalnya saya sangat sulit berbaur dengan teman sebaya. Entah apa alasannya, tapi mungkin karena saya berbeda. Berbeda dalam hal suku, gaya bicara, sikap, dan lain-lain. Dalam hal suku, jelas saya berbeda karena saya berasal dari Pulau Jawa begitupula dengan gaya bicara. Nah, dalam hal sikap mungkin saya sedikit berbeda dengan manusia-manusia di bumi ini. Aneh, itulah kata yang pertama kali terlintas jika melihat saya. Karena “aneh” ini pula lah, mungkin saya sering di acuhkan dan tidak diperhitungkan.

Lalu bagaimana ketika saya kembali ke tanah Jawa ? Mereka pun begitu. Saya sering disepelekan dan tidak dianggap. Mungkin karena saya sudah beradaptasi dengan darah Sumatera sehingga membuat saya berbeda kembali. Apakah itu sifat asli manusia ? Mari kita tanya diri kita masing-masing.

Kini

Saya perlahan-lahan mulai merasakan arti bersosialisasi dan bergaul dengan orang banyak. Mau tahu penyebabnya ? Sebab pertama karena darah saya sudah mulai berubah menjadi Jawa. Anda semua mengerti kan apa yang saya maksud dengan “darah” ? Sebab kedua yang saya rasa paling berpengaruh yaitu karena saya sudah bisa perlahan-lahan menutupi sifat “aneh” saya. Entahlah, mungkin karena saya sudah sedikit menjadi remaja menuju kearah dewasa.

Dalam hati kecil, terkadang saya merasa kasihan dengan “saya kecil” yang baru mengenal dunia. Ia belum bisa mengendalikan keanehannya. Oleh karena itu, begitu terjun ke lautan manusia, langsung ditenggelamkan tanpa ampun dengan perihnya hujatan-hujatan. Akibatnya lihatlah saya sekarang. Saya menjadi orang yang tidak PD (Percaya Diri) apabila tampil di depan banyak orang. Apakah itu adil ? Sungguh, sungguh tidak adil. Sama sekali tak adil.

Yang sangat saya sesalkan mengapa manusia-manusia itu tega melakukan hal seperti itu terhadap saya ? Mengapa saya tidak diberi sedikit kesempatan untuk berubah ? Akankah mereka sadar atas apa yang mereka lakukan ? Mari sekali lagi kita tanya diri kita masing-masing.
Penasaran ?? Klik disini...

Jumat, 03 Juni 2011

Keluhan Sang Bumi part I


Ada apa dengan zamaaaaaan iniiiiiiiiiiiiii ?? (#sambil teriak)

Zaman dimana keegoisan manusia semakin merajalela, tidak peduli dengan sesama dan tidak peduli dengan lingkungan. Huffft (#menghela napas panjang)
Lihatlah sekarang keadaan kota-kota besar ! Sampah bercecer di sungai-sungai dan asap kendaraan mengepul tinggi menghilangkan keindahan sang pagi. Tidak bisakah mereka (baca:manusia-manusia)mengalah sedikit untuk lebih menghargai sang bumi ?? Bisakah ??
Mari kita tanya diri kita masing-masing.

Hooeeekkkk ! Bau tidak sedap menusuk hidung saya. Sampah-sampah membusuk di sungai-sungai kecil dan membuat warnanya hitam sekelam kelakuan para pembuang sampah itu. Tidakkah mereka berpikir bahwa yang mereka lakukan itu dapat merusak keseimbangan alam ?? Atau mereka hanya memikirkan tentang diri mereka sendiri ?? Kasian makhluk-makhluk kecil yang hidup dalam sungai tersebut. Manusia telah merampas hak hidup mereka secara paksa. Sungguh tragis. Benar-benar tragis.

Tolong !! Saya tidak dapat bernapas ! Tenggelam dalam kepulan asap beracun yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Ya benar, kendaraan-kendaraan itulah yang mengemisikan mereka. Kendaraan yang berbunyi bising dan sering dibanggakan oleh manusia-manusia saat ini. Mereka sengaja dikendarai dengan alasan untuk memudahkan dan mempercepat perjalanan para manusia. Tapi bagaimana dengan efek sampingnya ?? Apakah para manusia itu memikirkannnya ? atau malah mereka tidak mau tahu ? Huuhh... lagi-lagi para manusia itu penyebabnya.

Memang saya maklumi bahwa pada zaman modern seperti ini manusia-manusia tersebut harus memiliki mobilitas yang sangat tinggi untuk berada dalam tempat berbeda dalam waktu yang singkat. Itu sih sah-sah saja mereka menggunakan jasa sang kendaraan bermotor. Tapi hal tersebut harus ada batasannya juga, yaitu hanya untuk urusan yang sangat penting saja. Lalu bagaimana dengan para pelajar atau pekerja (misalnya) yang masih bisa mengusahakan menggunakan kendaraan tak bermotor ?? Nah, itu yang sangat saya sesalkan. Mereka masih bisa pakai sepeda (misalnya) untuk menempuh perjalanannya. Kalau memang perjalanannya terlampau jauh, mereka dapat memulai bersepeda dengan waktu yang lebih awal. Marilah kita sedikit berkorban demi keseimbangan alam, demi kelangsungan hidup saya sebagai sang bumi.

Terus terang saja saya sangat iri dengan suasana zaman dahulu dimana semuanya masih natural. Tidak ada gas beracun yang berlebih, tidak ada sampah-sampah yang menggenang. Makhluk hidup pun terjamin hidupnya. Akankah semua itu hanya imajinasi belaka ?? TIdak !! Kita dapat mengusahakannya lagi dari awal, asalkan zat yang bernama "EGOIS" itu bisa dikurangi sedikit demi sedikit.

Tolonglah wahai manusia ! Tolong mengerti akan saya. Saya ingin hidup lebih lama, saya ingin melihat bagaimana lucunya anak dan cucu kalian. Terlebih lagi, umur saya sudah tidak muda lagi. Itulah satu permintaan terkahir saya untuk anda para manusia !
huuffffttttt (#menutup dengan menghela napas panjang)
Penasaran ?? Klik disini...