-->

Rabu, 13 April 2011

Maher Zain !!!

Pada kesempatan kali ini, saya hendak memperkenalkan seorang penyanyi yang lagu-lagunya aduuuh beeeeuuhhh, menyentuh banget. Cocok buat kita-kita yang pengen merenung tentang kebesaran Allah S.W.T. Memang benar penyanyi ini belum terlalu terkenal di Indonesia, tetapi saya jamin begitu yu-yu semua (baca : anda-anda semua) denger pasti terhipnotis oleh kata-kata dan nada dari lagu-lagunya. Oke tanpa banyak mengeluarkan air liur lagi, saya perkenalkan dari sudut biru, ini diiiaaaaaa………….. Maher Zain !!!

Akhirnya saya dapet juga biodata sang pelantun ini, setelah bertanya pada prof.wkipedia..he..he...

Maher Zain (bahasa Arab: ماهر زين – lahir 16 Maret 1981; umur 30 tahun) adalah penyanyi R&B Swedia, penulis lagu dan produser musik asal Lebanon. Dia juga tinggal untuk sementara di Amerika Serikat. Album debutnya Thank You Allah, dengan 13 lagu dan dua lagu bonus dirilis pada 1 November 2009, dengan Versi Perkusi eksklusif dan Versi Perancis dirilis tak lama kemudian. Dia bernyanyi terutama dalam bahasa Inggris, namun juga, antara lain, dalam bahasa Perancis, Arab, Urdu, Turki dan Melayu.

BIODATA
Nama         : Maher Zain
Lahir           : 16 Maret 1981 ,Tripoli, Libanon                                                            
Usia            : 30 (waaaawwww.... masih setengah berondong booo !!)
Asal            : Tripoli
Genre          : R&B, musik jiwa, musik pop, musik dunia, musik akustik                                   
Pekerjaan    : Penyanyi, musisi, penulis lagu, komposer
Tahun Aktif  : 2009–sekarang
Label           : Awakening Records

Nah, sekarang mari simak bersama video favorite saya ini...hehehehe


Oya bagi yang mau download mp3 nya bisa klik link dibawah ini...
LINK-LINK (Loh ?? Ling-ling atau Link-link ??) he..he...
Akhir kata, saya ucapkan selamat merenung dan selamat menikmati Penasaran ?? Klik disini...

Minggu, 03 April 2011

Sebuah Catatan yang Terlupakan...

19 November 2011
         Tak terasa musim salju telah datang menjemputku dengan berjuta partikel dingin. Tapi memang tak seharusnya ia datang seterlambat ini, atau memang ia sudah merubah jadwalnya?. Tetapi anehnya aku belum juga beranjak dari tempat ini. Tiba-tiba ada satu hal yang menyita perhatianku, Jejak kaki ! Jejak-jejak kaki yang tercecer disekitarku membuat ketakutan tersendiri. Aneh memang hal tersebut aku rasakan. Berbeda dengan mereka yang di sebrang. Ku lihat mereka disana sangat menikmati keadaan ini. Huuufft. Mungkin aku harus sedikit rileks untuk bisa hidup sebagaimana mestinya. Dapatkah aku? Cahaya mentari yang menerobos dedaunan yang telah membeku, menguatkan dan meyakinkanku dengan berjuta alasan. Aku terdiam dan percaya.

20 November 2011
         Cahaya yang kemarin menyilaukan bangun tidurku, kini perlahan-lahan hilang. Seolah-olah ia telah mengkhianati janjinya. Aku masih terdiam seperti hari sebelumnya, tetapi apa boleh buat. Keadaan memaksaku untuk diam, tidak bergerak sedikitpun. Kecuali sahabatku angin yang menggerakanku. Sungguh besar jasa sahabatku itu. Percaya atau tidak ia telah mempertemukanku dengan jodoh yang aku idam-idamkan selama ini. Kamipun menjadi keluarga bahagia karenanya.
         Ku lihat anak-anakku, mereka sangat kedinginan. Aku mulai khawatir mereka tak dapat bertahan. Hanya meyelimuti mereka dengan do’a yang dapat kuperbuat. Andai suamiku masih ada, mungkin keadaan menjadi lebih baik. Tapi sayangnya ia telah tiada terlindas oleh mobil besar dipinggir jalan. Aku yang berusaha mengingatkannya hanya terdiam membisu setelah kejadian itu. Dalam hati aku menangis sekencang-kencangnya. Ingin aku keluarkan tangisan ini, tapi tak bisa. Sekali lagi keadaan yang membuatku seperti ini. Sungguh memilukan.
24 November 2011
         Sahabatku angin perlahan-lahan lepas kendali dan emosinya tak terkontrol. Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Entah apa penyebabnya, mungkin ia sedang ada masalah. Pernah suatu hari pacarnya, sang tekanan, berselingkuh dengan cara pergi ke tempat lain dengan sang uap air. Ia marah sejadi-jadinya dan ada satu hal ciri khas jika ia sedang marah, yaitu berputar-putar di satu titik dan membuat semua benda tertarik ke arahnya. Akupun hampir saja ikut terbawa tetapi untungnya ia masih ingat padaku dan berusaha menjauh dariku. Sementara aku hanya terdiam dibawah pelindung kardus ini. Hufffttt.
         Akankah sahabatku angin benar-benar lepas kendali lagi ? Aku tidak tahu tetapi aku harap tidak. Kejadian mengerikan itu jangan sampai terjadi lagi. Aku tidak ingin kehilangan salah satu kaki lagi. Jika aku tidak punya kaki lagi, bagaimana aku akan melindungi anak-anakku ? Bagaimana aku memenuhi tanggung jawabku sebagai ibu ? Bagaimana ? Rasa khawatirku semakin menjadi-jadi ketika sahabatku membawa sang udara dingin bersamanya. Pikiranku semakin kalut dan tak terkendali. Berbagai kejadian mengerikan mengahantui pemikiranku. Aku mulai terkena depresi ringan.
25 November 2011
         Tidak ! Sang angin benar-benar kehilangan kendali. Tetapi untunglah tak separah musim panas dulu. Mungkin beberapa salju menumpakinya sehingga pikirannya sedikit tenang. Tetapi tetap saja itu semua dapat membahayakan anak-anakku. Berbeda dengan musim panas lalu, sahabatku itu tak dapat mengendalikan diri untuk menjauh dariku. Dia menerjang semua wilayah ! Otakku sibuk bekerja mencari cara agar anak-anakku dapat selamat. Bagaimana ini ?? Tak ada ide, tak ada cara. Yang ada hanyalah keputusasaan. Mungkin sudah saatnya aku pasrah dan menggantungkan hidupku pada Tuhan. Beberapa detik sebelum sahabatku menerjang, aku sempat berdo’a dalam hati kecilku, “Tuhanku, aku pasrah. Aku gantungkan hidupku dan hidup anak-anakku pada-Mu. Berilah keadaan yang terbaik untuk kami menurut pandangan-Mu. Karena hal yang menurut kami baik, belum tentu baik menurut-Mu. Begitupun sebaliknya.”. Dia datang !! Tetapi aku sudah siap.
27 November 2011
         Badai telah berlalu. Aku berada dimana ? Apakah di surga ? Tidak, rasanya aku masih bisa melihat seberkas cahaya di ujung sana. Perlahan-lahan aku merangkak walaupun harus menahan rasa sakit. Sakit tak terperi. Dalam perjalanan tersebut aku melihat sosok yang ramah dan selalu mengumbar senyum yang hangat. Sungguh tidak asing lagi pemandangan tersebut. Pemandangan yang selalu menghiasi hari-hari indahku. Ya, sosok itu adalah suamiku. Ini adalah keadaan terbaik yang pernah kualami setelah suamiku tiada dan aku bisa melihat senyum indah itu lagi meskipun hanya sebuah ilusi. Ia berusaha memberiku semangat padaku untuk mencapai cahaya itu. Mungkin ia sadar bahwa anak-anakku sangat membutuhkan kehadiranku. Semangatku meluap-luap. Sungguh tak tertahankan.
         Setelah berhasil mencapai cahaya tersebut, aku perlahan-lahan mendapatkan kembali kesadaranku. Tetapi kenyataan yang kudapat berbanding terbalik dengan ilusi yang ku alami, kenyataan pahit segera menyergapku. Ku lihat salah satu anakku tewas dan tercabut dari dunia tempat ia berpegangan. Aku bingung sekaligus kecewa dengan kenyataan yang kudapat, apa yang harus kuperbuat ? Apakah lebih baik aku kembali kedalam ilusiku ? Sang mentari di sela-sela kabut memberiku sebuah isyarat untuk tidak putus asa atas apa yang terjadi padaku. Ia kembali memberiku sebuah janji manis, ia berjanji akan selalu setia menemaniku untuk melewati musim yang dingin ini. Tetapi anehnya aku tetap saja termakan oleh janji busuk itu.
         Aku hanya bisa membiarkan jasad anakku tergeletak disampingku. Aku benar-benar tak bisa bergerak. Setiap kali aku memandang tubuh itu, air mata menetes membasahi pori-pori kulitku. Hanya pagi hari yang membuatku bisa menguraikan air mata ini.Saat-saat seperti itu tidak akan aku sia-siakan untuk melampiaskan rasa sedih teramat sakit yang menimpaku.
28 November 2011
         Di pagi hari yang kelam, tak terasa seluruh bagian rumahku telah tertutup oleh salju. Ini buruk, sangat buruk. Benda yang kusebut rumah adalah hanya sebuah penutup yang terbuat dari kardus. Ya, manusia yang tinggal disebelah yang memberikannya. Aku tinggal dibawah kardus usang ini sejak aku masih kecil. Tentunya banyak kenangan indah yang kulewati bersama. Jika rumahku telah tertupi oleh salju, bisa saja ia ambruk dan menimpa anak-anakku. Itulah yang hampi terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi pada tahun ini kondisi rumahku sudah tidak baik lagi, bahkan dapat kukatakan sudah tak layak dipakai lagi. Dan lagi-lagi aku menyalahkan keadaan atas kondisiku ini. Itulah sifat orang yang tak berdaya sepertiku. Harap dimaklumi. Hufffttt.
11 Desember 2011
         Sudah hampir dua minggu berlalu, tetapi rumahku masih bertahan. Syukurlah. Tetapi kekhawatiranku masih berlanjut karena musim salju masih tersisa 1 bulan lagi sebelum ia berlalu. Aku salut pada rumah kardusku. Walaupun telah renta tapi ia masih memiliki semangat juang untuk melindungi anak-anakku. Ucapan rasa terimakasih tak luput pula aku sampaikan pada Tuhanku yang telah memberi hidup lebih lama padaku. Alhamdulillah.
12 Desember 2011
          Sang mentari perlahan-lahan mengkhianatiku. Ia pergi jauh dan membawa sang cahaya ikut bersamanya. Aku geram sekali terhadapnya. Ini kali kedua ia mengkhianatiku, entah apa tujuannya. Mungkin ia mendapat tawaran yang leih baik daripada aku. Sungguh terlalu ! Jika tak ada sang cahaya, bagaimana aku dapat makan dan menyambung hidup anak-anakku ? Mungkin aku juga yang terlampau bodoh mau saja termakan janji busuknya. Lagi-lagi aku mengeluh. Hufffttt.
15 Desember 2011
          Suhu saat ini sekitar -25o Celcius. Nilai yang sangat ekstrim untuk sebuah suhu. Hal tersebut maklumi karena aku tinggal ditempat yang tidak rendah dan ditambah lagi sekarang musim salju. Aku sudah sangat lemah sekali karena sudah tiga hari ini sang mentari tak kunjung balik. Anak-anakku pun sepertinya sama sepertiku. Dalam dua minggu ini aku telah kehilangan dua anakku dan yang tersisa hanyalah dua anak kembar bungsuku. Keadaan mereka sungguh mengkhawatirkan. Semua anggota badannya sudah tak dapat digerakkan. Tapi dari sorot matanya ketika melihatku, aku mengerti bagaimana mereka sangat menderita. Mungkin itu adalah salah satu insting seorang ibu.
17 Desember 2011
          Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Hari dimana aku gagal memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Dua anak kembar bungsuku telah kehilangan nyawa. Walaupun tak dapat bergerak, aku tahu dari tanah tempat mereka terbaring yang tiba-tiba berubah menjadi dingin. Aliran listrik berjuta-juta volt serasa menyentuh tubuhku. Aku sangat terpukul atas kejadian itu dan itu beribu-ribu kali lebih menyakitkan dari kejadian ketika suamiku mengakhiri hidupnya. Sungguh menyakitkan. Tetesan air mataku membeku dan tak dapat kukeluarkan lebih banyak. Tubuhku lemas seketika.
25 Desember 2011
           8 hari aku sendiri tak ada siapa-siapa lagi yang kupunya. Dan keadaan memilukan tersebut bertambah parah ketika aku amati lingkungan sekitarku. Semuanya telah menyerah untuk hidup. Kini aku hanya sendiri di wilayah ini. Sungguh sendiri.
26 Desember 2011
           Sepertinya aku akan mengakhiri hidupku juga dan menyusul mereka. Aku sudah tak tahan lagi. Aku disini sebagai orang yang gagal atas tanggung jawabku. Aku sebagai orang yang terkhianati. Dapatkah aku bertahan hidup ? Tidak ! Tak ada yang dapat membuatku bertahan hidup lagi. Karena aku hanyalah sebuah Lili putih yang tinggal di kaki gunung.
Penasaran ?? Klik disini...

Kamis, 24 Maret 2011

Detective Case part III


wah ada kasus yang menarik lagi neh. Tetapi dalam kasus ini saya juga agak kebingungan soalnya jawaban yang akan dikeluarkan masing-masing orang bakal berbeda-beda. Makannya saya bikin postingan ini untuk dapat tau pendapat aga-agan..he..he.. Mari kita mulai.

LEGENDA SMU AJIB

Aku beranjak ke masa Smu. Setelah lama memilih, akhirnya aku memilih SMU AJIB menjadi sekolahku selama kurang lebih 3 tahun. Aku suka dengan sekolah ini karena ada sebuah kasus yang akan kupecahkan. Yang menjadi legenda SMU AJIB.
Ini kasus tentang seorang murid di SMU AJIB. Konon, katanya dia adalah anak yang jenius tapi memiliki keterbelakangan mental. Anak tersebut biasa menduduki bangku belakang di sudut kelasnya. Saat ujian, dengan ringannya ia mengisi seluruh jawabannya dengan baik dan benar. Tapi, setelah mengisi seluruh jawaban tiba-tiba sekelilingnya gelap dan ketik membuka mata seluruh jawabannya kosong! Bel berdering dan tes berakhir. Akhirnya, sang jenius mengumpulkan kertas koson dan tentunya tidak lulus tes. Sang jenius mati bunuh diri...

Beberapa tahun bangku tersebut kosong. Pada angkatan 20xx bangku itu kembali dihuni oleh seorang anak lelaki yang terkenal sebagai murid yang bodoh. Sehari sebelum ujian dimulai. Ia belajar siang dan malam. Pada saat ujian dimulai, dengan ringannya murid itu mengisi lembar jawabannya. Tapi, sekelilingnya tiba-tiba gelap dan saat membuka mata seluruh jawabannya kosong! Murid tersebut tidak lulus ujian dan mati karenanya.

Nah, kira-kira bagaimana hal tersebut dapat terjadi ?
Ada yang mau berpendapat?

http://www.kemudian.com/node/193936
Penasaran ?? Klik disini...

Selasa, 22 Maret 2011

Detective Case part II


Nah, pas saya lagi browsing-browsing lagi neh, saya ketemu lagi ama soal tipe beginian dan lagi-lagi (perasaan banyak kata "lagi" nya ya?? hahahaha..) saya tertarik untuk mengcopas (mohon maap apabila tidak ijin dulu tetapi saya mmasih ada dalam aturan mem-posting yaitu dengan menyertakan alamat web sumber) dan men-sharing ama temen-temen semua, he..he.. CEKIDOT dah gan !
NB :Saya udah tau jawabannya, dan yang berniat pengen menjawab silahkan menjawab di kolom komentar nanti saya beri tahu benar atau tidaknya, he..he.. :)

KEMATIAN SANG PROFESOR

Di sebuah hotel tua berlantai 4 telah ditemukan mayat Professor Jacob. Detektif Andy Parker diminta untuk menyelidiki kasus tersebut.
Pengurus hotel, Helen berkata bahwa saat ini hotel tua itu sangat sepi sehingga hanya ada 6 tamu saja yang sedang menginap, termasuk si Professor. Berikut nama kelima tamu lainnya: Nikita, Thomas, Julian, George dan Juliet.

Detetif Andy diantar Helen ke kamar 210, kamar yang ditempati korban. Mayat korban ditemukan terbaring di lantai. Tetapi rupanya korban sempat menulis sesuatu di lantai kayu dengan spidol, sebelum benar-benar menghembuskan nafas terakhir.

Pada baris pertama, korban menggambar :
sebuah segitiga – sebuah lingkaran – sebuah segiempat

Pada baris kedua, korban menulis :
10-21-12-9-1-14

Semenit kemudian Detektif Andy menuju ke kamar pembunuh dan menangkapnya.
Pertanyaannya : Berapa nomor kamar Tersangka dan siapakah dia?

http://fianzoner.blogspot.com/2010/06/teka-teki-detektif.html
Penasaran ?? Klik disini...

Detective Case part I


Berawal dari keisengan saya mencari soal-soal yang bisa melatih intuisi, Eh saya ketemu noh ama soal ini. Terus saya dapet ide buat postingan yang sama di blog ane Selamat memecahkan kasus, he...he... Oh iya Clue-nya dalam memecahkan soal seperti ini harus lebih teliti, ntar tiba-tiba muncul dah ntuh jawaban.


PENCURIAN DI PANTAI FLORIDA

Selasa, 12 Juli 1991
Pantai Florida, ombak laut bergelombang dengan tenangnya. Tidak seperti kemarin dan lusa kemarin dimana terjadi badai yang hampir menenggelamkan sebuah kapal.
Hari ini cuaca cerah dan sinar matahari lumayan terik.
Sherlock Holmes sedang berlibur disana bersama adiknya Mary dan dua anak Mary, John dan Belinda cilik.
Sayang ketenangan mereka terusik karena terjadi serangkaian pencurian di hotel mereka tinggal di tepi pantai.
Berhubung karena bantuan polisi yang dipanggil manajer hotel belum sampai, Sherlock Holmes mencoba membantunya.

Si manajer stress berat karena mendapat komplain keras dari 5 tamu hotel yang kehilangan barang-barang berharga.
Bisa hancur nama baik hotel tersebut kalau tidak segera menangkap pelakunya.
Sherlock Holmes mencurigai 5 orang disana yang mempunyai catatan kriminil dan pernah berurusan dengan polisi.

Ini hasil wawancaranya:

Orang 1 : Saya tinggal di pondok + 1500m dari hotel. Saya sudah insyaf dan tidak suka berbuat kejahatan lagi.
Orang 2 : Saya sudah menjadi orang baik-baik dan tinggal di sebuah rumah dekat pantai + 3 km dari sini. Saya menjadi pelukis sekarang.
Orang 3 : Saya menjadi pelayan di hotel ini tapi saya sudah insyaf, jadi anda tidak boleh menuduh sembarangan.
Orang 4 : Saya sudah tiga hari berkemah dekat pantai dan tidak mendekati hotel itu. Itu dia kemah saya. Saya sudah insyaf, pak.
Orang 5 : Saya bekerja sebagai penyelamat pantai disini. Saya sudah menjadi orang baik-baik. Maaf, saya ada kerjaan.

Sesaat kemudian Sherlock Holmes berhasil mengetahui dan menangkap si pencuri itu. Ada satu kesalahan kecil yang diperbuat oleh pencuri yang mengaku sudah menjadi orang baik-baik itu.
Liburan sekeluarga mereka pun menjadi lancar kembali.
** Siapa si pencuri itu? Dan apa alasannya? Mari kita coba bermain menjadi detektif...
http://fianzoner.blogspot.com/2010/06/teka-teki-detektif-kasus1.html
Penasaran ?? Klik disini...

Jumat, 11 Maret 2011

Cermin III

Karya : Ilyaza Gusnawan

Tak ada cermin yang tak retak bila kusentuh
Berawal dari goresan kecil tak kasat mata
Aku pun tak menghiraukannya
Hingga rasa pilu ini memenuhiku tanpa kenal batas
Goresan membesar
Lama-lama membesar
Dan Sang pilu sangat setia memupuki goresan itu

Ketika aku perlahan mendekat
Ketika kulit tipis ku berada diantara cermin dan goresan itu
Semua partikel cermin meledak seketika
Seolah-olah lepas dari kekangan sang waktu

Partikel yang kegirangan…
Masuk menembus dimensi emosi
Membuka kunci tahanan, sang pilu yang hendak keluar
Tak bisa kubendung lagi…
Sungguh tak bisa

Kini aku hanya terdiam…
Membiarkannya menenggelamkanku
Kedalam mimpi-mimpi kosong yang tak ada ambang batas
Kini aku hanya terdiam…
Menatap debu serpihan-serpihan kecil, sang cermin
Penasaran ?? Klik disini...

Cermin II


Karya :Ilyaza Gusnawan

Setiap sendi kecil leherku bergerak
Bayang-bayang itupun mengikuti
Bayangan yang sama di setiap noda waktu
Tetapi ketika mata ini kupenjamkan
Bayang-bayang itu memudar seketika

Dan tiba-tiba dia mengurungku kedalam sebuah kotak cermin

Bayangan itu semakin menjadi-jadi
Sosok bayang yang terasing dari semua keindahan
Sosok bayang yang ditinggalkan oleh zaman
Semakin terasing
Lama-lama semakin terasing
Tiada kelebihan yang tampak, semuanya serba datar

Bayang-bayang terasing…
Partikel-partikel cahaya terbias olehnya
Bergerak dalam suatu formasi membentuk sebuah siluet
Siluet yang mengharapkan hangatnya kebersamaan
Memintaku menuntunnya keluar
Dan terus memohon…
Tapi aku tak bisa
Karena dia adalah bayangan diriku, ditengah dinginnya sebuah cermin

Penasaran ?? Klik disini...